
NGAWI— Minggu, 15 Februari 2026. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam kelompok KKN UNS 95 menyelenggarakan kegiatan Edukasi dan Demonstrasi Hidroponik dengan tema "Tanam Tanpa Tanah, Panen dari Rumah" di Desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi pada Sabtu, 15 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai metode budidaya sayuran tanpa tanah yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga, khususnya pada lahan sempit, sebagai upaya mendorong kemandirian pangan berbasis pertanian modern yang sederhana dan terjangkau.
Kegiatan edukasi dan demonstrasi hidroponik ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKN UNS 95 yang dilaksanakan selama periode Januari–Februari 2026. Program ini ditujukan kepada masyarakat Desa Dempel sebagai upaya pemberdayaan dalam bidang pertanian rumah tangga. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman mengenai alternatif budidaya yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah. Hidroponik dipilih sebagai teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan ketersediaan lahan yang terbatas.
Desa Dempel dikenal sebagai wilayah agraris yang sebagian besar lahannya dimanfaatkan untuk budidaya padi, sementara penanaman sayuran di tingkat rumah tangga masih belum berkembang secara optimal. Kebutuhan sayuran sehari-hari masyarakat umumnya dipenuhi melalui pembelian di pasar, sehingga pekarangan rumah belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber pangan alternatif. Rendahnya minat masyarakat dalam menanam sayuran juga dipengaruhi oleh anggapan bahwa kegiatan bercocok tanam memerlukan lahan luas serta perawatan yang rumit. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa KKN UNS 95 untuk menghadirkan solusi inovatif melalui metode hidroponik yang praktis dan dapat diadaptasi oleh siapa pun.
Mahasiswa KKN UNS 95 berinisiatif mengangkat permasalahan ini setelah melakukan observasi langsung terhadap kebiasaan dan kondisi pertanian rumah tangga warga Desa Dempel. Ketergantungan masyarakat terhadap pasokan sayuran dari luar desa dinilai dapat dikurangi apabila warga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk memproduksi sayuran secara mandiri. Hal ini mendorong perlunya pendekatan edukatif yang tidak hanya informatif, tetapi juga aplikatif dan mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi singkat mengenai konsep dasar hidroponik, manfaat sistem tanam tanpa tanah, serta keunggulannya dalam memanfaatkan lahan sempit. Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi praktik hidroponik menggunakan sistem vertikultur pipa, di mana peserta diperlihatkan tahapan persiapan alat dan bahan, proses penyemaian benih, pencampuran larutan nutrisi, hingga perawatan tanaman sayuran secara langsung.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi tanya jawab yang hidup dan penuh antusiasme dari para peserta. Warga tampak tertarik dengan konsep hidroponik karena dinilai praktis, efisien, dan sangat memungkinkan untuk diterapkan di pekarangan rumah masing-masing.
Salah satu warga Desa Dempel yang mengikuti kegiatan ini turut berbagi kesannya setelah menyaksikan demonstrasi hidroponik secara langsung.
"Saya tidak menyangka ternyata menanam sayuran bisa sesederhana ini. Tidak butuh tanah, tidak butuh lahan luas, cukup dengan pipa dan sedikit larutan nutrisi, kita sudah bisa panen sayuran sendiri di rumah. Ini sangat membantu, apalagi harga sayuran di pasar kadang tidak menentu. Saya jadi tertarik untuk mencoba sendiri di rumah setelah melihat demonstrasi tadi," ungkap salah satu warga peserta kegiatan.
Melalui kolaborasi yang terjalin dengan baik antara mahasiswa UNS dan masyarakat Desa Dempel, program ini berhasil membuka wawasan warga terhadap inovasi pertanian modern yang selama ini dianggap rumit dan sulit diterapkan. Keterlibatan langsung peserta dalam sesi demonstrasi memberikan pengalaman praktis yang dapat segera mereka tindaklanjuti secara mandiri di rumah masing-masing.
Program ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya diversifikasi sumber pangan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Dengan keterlibatan aktif warga dalam setiap sesi kegiatan, diharapkan semangat bertanam secara mandiri dapat terus tumbuh dan berkembang di lingkungan Desa Dempel.
Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pengetahuan serta keterampilan dasar mengenai budidaya sayuran secara mandiri. Hidroponik mulai dipandang sebagai solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan sayuran dari luar desa, sekaligus sebagai peluang usaha skala rumah tangga yang menjanjikan apabila dikembangkan lebih lanjut.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal terbentuknya komunitas tanam hidroponik di Desa Dempel, Kecamatan Geneng, yang dapat saling berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain dalam mengembangkan pertanian rumah tangga berbasis teknologi modern. Dengan meningkatnya kesadaran dan keterampilan masyarakat, diharapkan pekarangan-pekarangan rumah di Desa Dempel dapat berangsur berubah menjadi lahan produktif yang menghasilkan.
Mahasiswa KKN UNS 95 dari Universitas Sebelas Maret berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Dempel. Produksi sayuran secara mandiri di tingkat rumah tangga diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya diversifikasi sumber pangan. Dengan tindak lanjut yang konsisten dari warga maupun dukungan pemerintah desa, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal penerapan pertanian modern sederhana yang berkelanjutan di Desa Dempel.
Editor: Aliffa Rahma Wati